Di Qatar terdapat seorang lelaki, Allah izin dia menghadapi sakit yang agak kronik. Dia tidak mampu menggerakkan tubuhnya dari bahagian pinggang hingga ke hujung kaki. Ditambah pula, kondisi tubuhnya yang lemah menyebabkan dia terpaksa berbaring saja di atas tempat tidur.
Allah telah menarik banyak nikmat hidupnya, Allah telah mengujinya.
Tetapi, kesungguhannya dalam meyampaikan kebaikan tidak terganggu.
Dalam keadaan berbaring itu, dia berusaha menyampaikan kebaikan dengan sungguh-sunguh. Waktunya tidak digunakan untuk merintih, tidak untuk istirahat santai, tiada harinya yang berlalu tanpa digunakan sebaik-baiknya, semuanya diisi dengan menulis, menulis dan menulis seruan kepada kebaikan, kemudian disebarkan ke pelbagai tempat di alam maya.
Mendengar kesungguhan lelaki itu, seorang pendakwah terkenal Nabeel ‘Awadiy segera menziarahinya. Dari Arab Saudi, dalam keadaan masa yang padat dan kerja yang banyak, Nabeel ‘Awwadiy meluangkan waktu terbang ke Qatar untuk menziarahi pemuda tadi.
Pemuda tadi mengalirkan air mata, ketika tahu yang menziarahinya pada hari itu adalah pendakwah yang sangat dia kaguminya. Nabeel ‘Awadiy meluangkan masa bersembang dengan pemuda ini.
Dan kata-kata pemuda itu yang membuatkan hati saya bergetar adalah:
“Wahai sheikh(katanya kepada Nabeel ‘Awadiy), kalaulah Allah berikan aku kesehatan, aku akan gunakan setiap saat dalam hidup aku untuk mengajak manusia kembali kepada-Nya”
Itulah dia pengakuan, kesungguhan, seorang lelaki yang telah tidak mampu digerakkan lagi kakinya, yang sedang sakit dan tubuhnya pula lemah. Berbaring 24 jam. Kencing dan air besarnya diuruskan orang lain.
Tetapi dia tidak lengah mengajak manusia kepada Allah SWT.
Medan dakwah yang luas, dia menyertainya dengan apa yang dia mampu.
Sehinggakan pendakwah terkenal seperti Nabeel ‘Awadiy mengkagumi pemuda ini.
Bagaimana kita? Kita yang masih sehat. Kita yang bicara dengan baik. Kita yang dapat bergerak kemana-mana. Kita yang karena izin Allah diperhatikan orang. Kita yang mempunyai kemampuan dalam banyak hal.
Apakah yang telah kita lakukan dengan nikmat-nikmat Allah SWT ini?
Kenapa seorang lelaki lumpuh, separuh mati itu mampu mengajak manusia kepada Allah SWT, dan kita yang sehat ini bukan sekadar tidak mengajak, malah meninggalkan perintah Allah SWT.
Jadi sudahkah kita pandai bersyukur dan mau menebar kebaikan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar